Komaruddin mengingatkan bahwa derasnya arus informasi tidak selalu berbanding lurus dengan meningkatnya kualitas pengetahuan masyarakat. Di ruang digital, informasi yang benar bercampur dengan informasi yang belum terverifikasi, konten sensasional, hingga penipuan.
Ia menilai, salah satu persoalan mendasar adalah algoritma platform digital yang secara perlahan membentuk pola konsumsi informasi masyarakat. Informasi yang sering dilihat, disukai, atau dicari pengguna akan menjadi dasar bagi algoritma untuk merekomendasikan konten berikutnya.
“Algoritma itu sebelumnya menjajah tanpa paksaan, mengendalikan tanpa paksaan,” kata Komaruddin.
Ia juga menyoroti data sebagai salah satu sumber kekuatan dalam ekosistem digital. Aktivitas pengguna saat menggunakan telepon pintar meninggalkan jejak digital yang dapat dimanfaatkan untuk membentuk profil pengguna dan menentukan rekomendasi konten.
Kondisi tersebut, lanjutnya, berpotensi menciptakan ruang informasi yang semakin personal. Seseorang dapat terus-menerus menerima informasi yang sesuai dengan preferensinya, sementara informasi dari sudut pandang berbeda semakin jarang dijumpai.
Menurut Komaruddin, situasi ini menjadi tantangan serius bagi masyarakat, keluarga, dunia pendidikan, media, maupun pemerintah. Kemampuan memeriksa, memverifikasi, dan mempertanyakan informasi menjadi semakin penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh oleh emosi yang dibangun melalui konten digital.
“Yang serius sekali adalah kita tidak dilatih untuk mengecek informasi,” katanya.
Komaruddin juga mengingatkan bahwa media sosial memiliki kekuatan besar dalam menggerakkan emosi publik. Berbagai peristiwa di dunia menunjukkan bagaimana platform digital dapat memengaruhi opini publik dan menggerakkan massa dalam waktu singkat.
Karena itu, ia menilai kolaborasi antara lembaga penyiaran publik seperti RRI dan organisasi perusahaan media seperti SMSI penting untuk membangun ekosistem informasi yang lebih sehat.
Kerja sama tersebut diharapkan tidak berhenti pada penandatanganan MoU, tetapi berlanjut melalui program nyata untuk meningkatkan kompetensi wartawan, memperkuat verifikasi informasi, dan menghadirkan informasi pembangunan yang akurat serta dapat dipertanggungjawabkan.
Kegiatan tersebut turut dihadiri Wakil Ketua Dewan Pers Totok Suryanto, Anggota Dewan Pengawas LPP RRI Enderiman Butar Butar, Direktur PP LPP RRI Mistam, Dewan Penasihat SMSI Pusat Prof. Dr. Taufiqurochman, Dewan Pertimbangan SMSI Pusat Theodorus Dar Edi Yoga, serta Wakil Ketua Umum SMSI Bidang Usaha Media Siber dan Pengembangan Teknologi Digital Ilona Juwita.
Hadir pula Kepala Stasiun RRI Jakarta Ir. M. Bugi Hidayat, Kepala Pusat Pengembangan Kompetensi RRI Ade Irosadi, dan Kepala Pusat Pemberitaan RRI Yuliana Marta Doky.





















