Foto: Ketua Fraksi PDIP, Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang, H. BUKASAN, S.Pd., M.M, berkaos putih. (Dok. Transparansi.co.id)
Lumajang, Transparansi.co.id – Suasana santai namun sarat diskusi mewarnai warung kopi sederhana di pinggir Jalan, Selasa siang (4/8/2026). Sejumlah wartawan dan warga setempat duduk satu meja dengan Ketua Fraksi PDIP, Komisi B DPRD Kabupaten Lumajang, H. BUKASAN, S.Pd., M.M, dalam agenda “ngopi bareng”.
Tanpa meja rapat dan tanpa protokoler, obrolan mengalir begitu saja. Dari isu harga gabah, infrastruktur desa, hingga dinamika politik di DPRD. Aroma kopi hitam dan pisang rebus menemani hampir 2 jam diskusi.
H. Bukasan sengaja memilih warung pinggir jalan agar suasana lebih cair. Menurutnya, ruang seperti ini justru membuat warga dan insan pers lebih terbuka menyampaikan persoalan yang ada di tengah masyarakat.
“Kalau di kantor formal semua. Di sini kita bisa ngobrol apa adanya. Saya ingin dengar langsung keluhan warga dan juga masukan dari teman-teman wartawan soal apa yang terjadi di lapangan,” kata H. Bukasan di sela menyeruput kopinya.
Ia menegaskan, Fraksi PDIP di DPRD Lumajang berkomitmen menjadi jembatan antara aspirasi masyarakat dengan kebijakan pemerintah daerah.
Dalam diskusi tersebut, wartawan menyoroti sejumlah isu strategis. Mulai dari serapan anggaran pembangunan, transparansi proyek, hingga peran DPRD dalam mengawasi pelaksanaan program di desa-desa.
Sementara warga menyampaikan keluhan seputar jalan rusak, pupuk subsidi yang langka, dan minimnya lapangan kerja bagi pemuda di Lumajang.
“Kami senang Pak Bukasan mau turun langsung. Biasanya susah ketemu wakil rakyat. Lewat ngopi seperti ini kami jadi berani ngomong,” ujar salah satu warga.
H. Bukasan mencatat setiap masukan yang disampaikan. Ia berjanji akan membawa seluruh poin diskusi ke rapat fraksi dan komisi terkait di DPRD.
“Ini bukan sekadar ngopi. Ini bagian dari kerja kami menyerap aspirasi. Tugas saya memastikan suara bapak-bapak ini sampai dan diperjuangkan,” tegasnya.
Ngopi bareng ini ditutup dengan foto bersama dan canda tawa. Obrolan serius dibungkus suasana kekeluargaan khas warung pinggir jalan.





















