Foto: Mahasiswa UM Malang saat PPG di SMKN 1 Tekung Lumajang. (Dok. Istimewa)
Lumajang, Transparansi.co.id – Maraknya penggunaan kecerdasan buatan generatif sebagai jalan pintas mengerjakan tugas membuat sekelompok mahasiswa Pendidikan Profesi Guru atau PPG bidang Informatika Universitas Negeri Malang turun langsung ke Lumajang.
Mereka menggelar pelatihan literasi digital bagi remaja usia 17 hingga 18 tahun di Kecamatan Tekung, Kabupaten Lumajang, pada pekan pertama Juni 2026. Fokus pelatihan: mengembalikan daya kritis siswa dalam memanfaatkan teknologi melalui penguasaan teknik rekayasa perintah atau prompt engineering.
Fenomena ketergantungan pada teknologi pintar dinilai semakin mengkhawatirkan di lingkungan pendidikan kejuruan. Banyak pelajar yang menggunakan aplikasi AI hanya untuk menyalin jawaban tanpa melalui proses berpikir analitis.
“Program ini dirancang agar siswa tidak sekadar menjadi pengguna pasif. Mereka dilatih mengendalikan sistem mesin pintar melalui instruksi yang spesifik, kontekstual, dan punya batasan jelas,” kata perwakilan tim pengabdian PPG UM, Ainur Rofiq.
Berbeda dengan kelas teori konvensional, pelatihan ini menerapkan metode praktik langsung pembuatan karya visual secara individu. Peserta diajarkan memecah ide abstrak menjadi struktur kalimat teknis yang mudah dipahami mesin. Teknik ini dikenal sebagai dekomposisi komputasional.
Format ujian tulis tradisional pun dikesampingkan. Keterampilan peserta langsung dievaluasi melalui observasi riwayat teks instruksi yang mereka ketik dan kualitas produk visual yang dihasilkan.
Proses interaksi antara siswa dan mesin menjadi fokus utama pendampingan. Saat hasil visual pertama tidak sesuai harapan, peserta dibimbing menemukan kesalahan logika pada kalimat perintahnya, bukan menyerah pada hasil mesin.
“Awalnya saya hanya menyuruh mesin membuat gambar pemandangan, tetapi hasilnya sangat tidak relevan. Setelah belajar memperbaiki struktur kalimat dan menambahkan parameter visual yang lebih detail, gambarnya menjadi sangat akurat,” ujar Andika Galih, salah satu siswa peserta pelatihan saat mempresentasikan karyanya.
Ainur Rofiq menegaskan, penguasaan teknologi harus dibarengi pemahaman etika dan logika.
“Kami ingin mengubah mindset para remaja. AI bukan alat untuk menghindari proses berpikir, melainkan mitra kognitif yang justru menuntut kejelasan logika berpikir penggunanya. Ini bagian dari tanggung jawab akademisi UM untuk mengawal pencapaian SDGs,” tegasnya.
Inisiatif pengabdian ini merupakan bentuk nyata komitmen perguruan tinggi mendukung _Sustainable Development Goals_ poin 4 tentang pendidikan berkualitas dan poin 9 tentang inovasi industri dan infrastruktur.
Melalui pelatihan, mahasiswa UM berkontribusi meningkatkan keterampilan literasi digital dan _critical thinking_ remaja agar mampu memanfaatkan teknologi secara bijak di era transformasi digital.
Sebagai langkah keberlanjutan, tim penyelenggara menghibahkan modul panduan praktis ke perpustakaan sekolah. Modul itu diharapkan menjadi rujukan belajar mandiri bagi angkatan selanjutnya.
Dengan intervensi ini, pola pikir remaja mengenai kecerdasan buatan mulai bergeser. Mesin pintar tidak lagi dianggap sebagai mesin penjawab instan, melainkan instrumen kognitif yang menuntut kejelasan logika penggunanya.





















