Foto: Siswa SMPN 1 Jatiroto saat latihan PBB. (Dok. Istimewa)
Lumajang, Transparansi.co.id – Berdiri tegap dalam satu barisan terlihat sederhana. Namun bagi siswa SMPN 1 Jatiroto, Kecamatan Jatiroto, Kabupaten Lumajang, latihan Peraturan Baris-Berbaris menjadi ruang untuk menanamkan disiplin, kekompakan, dan tanggung jawab.
Selama empat hari, siswa mendapat pelatihan PBB dan pembekalan Wawasan Kebangsaan dari personel Koramil 0821-12/Jatiroto. Kegiatan berlangsung Kamis (13/8/2026) di lingkungan sekolah.
Dalam latihan, siswa mempraktikkan gerakan dasar PBB mulai dari sikap sempurna, penghormatan, gerakan di tempat, hingga gerakan berjalan. Mereka dituntut mengikuti instruksi dengan tepat, menjaga kekompakan, serta memperhatikan gerakan teman satu barisan.
Bagi siswa, proses itu menjadi pengalaman bahwa kedisiplinan dibangun dari kebiasaan kecil. Datang tepat waktu, mengikuti aturan, memperhatikan arahan, dan menyelesaikan tugas bersama adalah sikap yang diharapkan bisa diterapkan di kelas maupun di rumah.
Serma Abdul Gofur dari Koramil 0821-12/Jatiroto mengatakan, latihan PBB merupakan cara mengenalkan kedisiplinan kepada generasi muda melalui pengalaman langsung.
“Kami berharap anak-anak tidak hanya bisa baris-berbaris. Yang lebih penting, mereka belajar disiplin, bertanggung jawab, kompak, dan saling menghargai. Kebiasaan itu bisa mereka terapkan di sekolah, keluarga maupun lingkungan sekitar,” ujarnya.
Selain PBB, siswa juga mendapatkan pembekalan wawasan kebangsaan. Materi diarahkan untuk memperkuat pemahaman tentang persatuan dan kesatuan, cinta tanah air, serta pentingnya menjaga kerukunan di tengah keberagaman.
Dengan latihan bersama, siswa belajar bahwa setiap orang punya peran. Kekompakan dalam barisan menjadi gambaran bahwa tujuan bersama hanya bisa dicapai jika saling menghargai.
Kepala SMPN 1 Jatiroto Anna Afrianti menyambut baik kegiatan tersebut. Menurutnya, pengalaman berlatih bersama personel TNI melengkapi pendidikan karakter yang selama ini diberikan sekolah.
“Anak-anak belajar bahwa disiplin, kekompakan dan tanggung jawab itu penting. Harapannya, apa yang mereka dapatkan selama latihan tidak berhenti ketika kegiatan selesai, tetapi menjadi kebiasaan dalam belajar dan kehidupan sehari-hari,” katanya.
Ia menilai pembekalan wawasan kebangsaan juga penting agar siswa memahami arti persatuan, menghargai perbedaan, dan membangun kepedulian terhadap lingkungan.
Anna berharap kegiatan seperti ini dapat dilakukan secara berkelanjutan. “Anak-anak tidak hanya perlu didorong berprestasi secara akademik, tetapi juga perlu memiliki sikap, mental dan karakter yang baik,” ujarnya.
Latihan empat hari itu pada akhirnya bukan hanya soal barisan yang rapi. Ada proses belajar mendengarkan, mengikuti aturan, mengendalikan diri, bekerja sama, dan bertanggung jawab terhadap kelompok.
Dari lapangan sekolah, nilai-nilai tersebut diharapkan terbawa ke ruang kelas, rumah, dan masyarakat. Sebab, generasi berkarakter tidak terbentuk dalam satu kegiatan, melainkan dari kebiasaan baik yang terus dilatih.





















